Minggu, 18 Juli 2010

Penghambat Produktivitas


Pada era skarang ini produktivitas harus selalu ditingkatkan entah produktivitas pribadi maupun produktivitas kelompok. Dalam Al-Quran pun disebutkan “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini”. Suatu kerugian besar jika kita tidak benar-benar menerapkan ajaran tersebut.

Beberapa yang menjadi momok seseorang untuk tidak produktif adalah:
  1. Budaya masyarakat
seseorang tidak berkeiginan untuk bermimpi besar karena tidak didukung lingkungan. Takut akan mimpi dan tidak ada harapan berarti tidak punya tujuan. Ibarat orang keluar pintu rumah tetapi tidak punya tujuan akhirnya hanya berjalan tanpa arah dan tidak akan pernah sampai.
  1. Image sebagai orang ambisius
Bagi kebanyakan orang malu di cap sebagai orang yang ambisius. Padahal memang mimpi harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Kalau bukan kita sendiri yang mewujudkan mimpi kita lalu siapa? Jadi tetaplah berusaha jika kita punya mimpi, jangan takut orang mengatakan kita over ambisi. Dibarengi niat yang baik orang akan menganggap kita sebagai pekerja keras buakn over ambisi.
  1. Mencari aman
Mencari aman berarti orang nyaman dengan keadaan sekarang, tidak mau melakukan perubahan, dan takut untuk berinovasi. Inilah yang menjadi bom waktu bagi kita karena ketika kita merasa aman maka tidak ada yang berkembang pada diri kita.
  1. Takut gagal
Kegagalan selalu membayangi orang untuk melakukan sesuatu. Ide dan gagasan akan mati ketika kita membayangkan kegagalan.
Perlu kita pahami bahwa kegagalan itu tidak ada. Justru ketika kita berhenti melakukan perubahan maka itulah kegagalan. Orang bijak menilai sesuatu dari proses bukan hasil. Ketika hasil yang kita harapkan kurang pas namuni kita sudah bekerja keras maka keberhasilan di tangan kita.
  1. Sudah takdir
seorang pemenang selalu ingin menyelesaikan tugas dan permasalahan dengan berbagai cara, dan seorang pecundang selalu mencari alasan terhadap masalahnya. Ironos sekali jika seorang muslim mengatakan ungkapan “memang sudah takdir”. Ini menunjukkan kelemahan. Takdir itu tergantung usaha dan doa kita, jika kita berusaha dengan keras maka kita akan diberi kemudahan.

Semoga bermanfaat bagi kita semua
amiinnnnnnn

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

bagaimana komentar anda